Welcome To My Blog, Don't Forget To Follow My Twitter.
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Unknown


danbo12.jpg"Mengapa kamu kesini lagi? Bukankah kamu telah mengusirku?" teriaknya.
"Aku kesini hanya untuk meminta maaf Sam," jawab Egi.
"Apakah setelah kamu mengusirku dengan seenaknya aku dapat memaafkanmu dengan mudah? Mudah bagimu untuk meminta, tapi, aku, berat untuk memaafkanmu atas kejadian yang kau perbuat tempo hari.”
"Aku khilaf Sam. Saat itu aku diperdaya oleh Cyintia dan Adhit. Aku baru sadar, ternyata mereka hanya mengincar hartaku. Jika jadinya seperti ini, mending aku menolak ajakan Prof. Ikhwan Sam. Aku menyesal Sam," kata Egi yang saat itu berlinang air mata menyesali perbuatannya.
Suara petir mengelegar bersaut-sautan ditemani rintik-rintik air hujan yang seakan tahu apa yang sedang terjadi dengan kedua insan tersebut. Suara jam yang berdentang sembilan kali ikut menemani suara Egi yang terus membujuk Sam untuk memaafkanya, kejadian yang membuat persahabatan mereka terhenti. Kejadian itu berawal ketika mereka mengikuti ekspedisi ke pedalaman Kalimantan untuk meneliti jejak-jejak yang ditinggalkan Kerajaan Kutai.
"Gi…, aku lulus tes..., teriak Sam sambil berlari mendekati Egi.
"Oh ya?" celetuk Egi tanpa menoleh ke arah Sam sambil menghabiskan bulatan terakhir dari baksonya.
"Kamu itu kebiasaan kalau diajak ngobrol nggak pernah melihat ke lawan bicara."
"Ya, maaf, Sam. Habis, kebiasaan sih. Oh ya, selamatya Sam, kalau begitu kita dapat ekspedisi bareng-bareng dong."
"Eh kamu ikut audisi ya Gi?" tanya Sam.
"Nggak kok Sam. Aku disuruh Prof. Ikhwan untuk jadi asisten buat ekspedisi ini. Niatnya sih nggak ingin ikut, tapi, kalau tau kamu juga ikut, aku, ikut juga lah," ujar Egi.
"Ya sudah, kalau begitu. Aku duluan ya...”
"Kok cepat-cepat sih pulangnya?”
"Iya nih. Aku masih harus mempersiapkan barang-barang buat ekspedisi lusa.”
"Ya sudah sana kalau mau pergi. Aku masih ada acara di Kampus.”
"Duluan ya...," kata Sam sambil berlari meninggalkan Egi yang masih meminum Ice lemon tea-nya.
Hari ekspedisi pun tiba. Egi, Sam, dan Prof. Ikhwan terbang dari Jakarta menuju Samarinda.  Setelah sampai, mereka lalu menginap di Hotel berbintang tiga. Keesokan harinya mereka memulai perjalanan mereka walau gerimis melanda Samarinda. Mereka melakukan ekspedisi ditemani Pak Bahar, seorang pemandu.
Setelah dua hari menjelajah hutan, mereka malah tersesat.
"Maaf saudara-saudara, kelihatanya kita tersesat,” kata Pak Bahar dengan logat Dayaknya. Memang sih, Pak bahar memiliki sedikit darah Dayang yang diturunkan dari ayahnya.
"Pak Bahar, gimana sih ini?" kata Prof. Ikhwan dengan nada sedikit marah.
”Ya maaf Pak. Soalnya GPS yang saya bawa konslet. Saya juga lupa membawa kompas” kata Pak Bahar.
”Ya sudah, dari pada bertengkar mending kita kesana saja. Kelihatanya disana ada sungai. Soalnya saya mendengar suara gemercik air,” saran Egi sambil menunjuk ke arah semak belukar.
”Oke kalau begitu. Saya juga sudah haus,” kata Prof. Ikhwan.
Mereka lalu menuju ke arah suara gemercik air.
”Aduh... batu sialan...” teriak Egi.
”Ada apa Gi?”kata Sam sambil menghampiri Egi.
”Ini lho Sam, batu sialan ini, nggak punya mata kali ya..., kata Sam sambil meringis menahan sakit. Memang, batu yang ditendang Egi cukup besar, sebesar semangka. Lho???
”Kamu itu gila apa-apa ya? Masak batu punya mata? Eh kok ada yang aneh ya dengan batu ini?” kata Sam sambil menunjuk ke arah batu.
”Aneh apanya? Batu ya tetap batu. Mana ada batu yang istimewa?kata Egi yang jengkel dengan Sam entah karena apa.
”Ini lho, kok ada ukiran-ukiran aneh?” kata Sam sambil memindahkan batu.
Eh, iya, ya. Coba saja tanya ke Prof. Ikhwan!” suruh Egi yang mulai bangkit.
”Prof..., coba ke sini dong!” teriak Sam.
Mendengar pangilan Sam, Prof. Ikhwan spontan bangun dan mendekati Sam dan Egi. ”Ada apa Sam? Kok teriak-teriak. Kelihatanya ada yang penting?”
”Ada apa Sam?” tanya Prof. Ikhwan lagi.
”Ini lho Prof.” kata Egi sambil menunjuk ke arah ukiran-ukiran di batu.
Lalu Prof. Ikhwan pun meneliti batu tersebut dengan mengambil peralatan arkeologinya. ”Kalau dilihat dari ukiran-ukirannya, batu ini seperti sebuah prasasti. Pak Bahar, apakah dulu di sekitar sini pernah ditemukan prasasti?” kata pak bahar sambil berdiri.
”Iy, iya, Pak. Dulu memang pernah ditemukan batu yang hampir sama dengan yang ditemukan nak Egi. Dan setelah diteliti ternyata batu tersebut prasasti peninggalan Kerajaan Kutai,” kata Pak Bahar yang terbata-bata manjawab pertanyaan dari Prof. Ikhwan.
”Oh ya?.., kalau begitu, selamat ya nak Sam. Kamu telah  menemukan prasasti,” kata Prof. Ikhwan sambil menepuk pundak Sam.
Sontak saja Sam yang dikira telah menemukan prasasti tersebut mengelak. ”Oh, maaf Prof, bukan saya yang menemukan prasasti tersebut, tapi, Egi,” kata Sam sambil melirik ke arah Egi.
”Oh ya…?
”Hehehehe..., iya Prof. Saya yang telah menemukan prasasti tersebut, walaupun awalnya saya nggak suka sama batu tersebut,” kata Egi sambil meringis. Bukan karena menahan sakit, tapi, kali ini karena Prof. Ikhwan salah menyebutkan nama. Masa orang yang bergerar Profesor bisa salah. Maklum lah. Namanya juga manusia, pasti bisa salah. Katanya dalam hati.
”Kalau begitu maaf ya nak Egi,” kata Prof. Ikhwan yang wajahnya memerah kecut seperti tomat yang hendak disambal.
”Ah, nggak papa lah. Namanya juga manusia.”
”Ya sudah kalau begitu. Mending kita bawa batu ini, maksud saya prasasti ini ke Pusat Arkeologi,” saran Pak Bahar.
”Bagaimana mau ke sana pak? Jalan pulang sja lupa?”gerutu Sam.
”O…, kita susuri saja sungai ini. Saya tahu tembusan dari sungai ini.”
”Oh ya kalau begitu,” jawab Sam.
Lalu mereka mengikuti instruksi Pak Bahar dan membawa prsasti tersebut. Semak belukar, batu licin, dan jalan terjal adalah hadangan bagi mereka. Setelah sehari berjalan, sapailah mereka di sebuah perkampungan. Atas inisiatif Pak Bahar, mereka meminjam HP dari penduduk setempat untuk menghubungi Pak Kina, Teman Pak Bahar di Badan Arkeologi Kutai untuk menjemputnya.
”Terima kasih Pak Kina, Atas tumpangannya,” kata Prof. Ikhwan.
”Sama-sama Prof. Saya juga senang membantu anda,” kata Pak Kina sambil membetulkan ikat pinggangnya.
”Pak…, Pak…, tolong bawa ini ke kantor! Sekalian panggilkan Pak Bambang, saya tunggu di ruang tunggu,”  suruh Prof. Ikhwan kepada humas di kantor.
”Iya pak. Ngomong-ngomong bapak ini siapa ya?” tanya humas yang masih terbingung-bingung dengan datangnya seseorang yang memakai pakaian rapi.
”Kenalkan, saya Prof. Ikhwan. Dan ini Egi dan Sam. Egi ini orang yang menemukan prasasti di hutan,” kata Prof. Ikhwan sambil mengenalkan Egi dan Sam.
”O…, Egi yang itu to.”
”Iya pak,” kata Egi sambil cengigisan memperlihatkan giginya yang masih ada sisa-sisa cabai yang tersela di giginya.
” Ya sudah.  Meet and greet-nya sudahan. Sana cepat panggilkan.”
Sesudah menunggu lama, akhirnya mreka bertemu dengan Pak Bambang di ruang tamu.
”Ya sudah kalau begitu. Nanti kalau sudah selesai menelitinya saya kabarin. Sebagai balas jasanya saya kasih cek. Kamu maunya berapa?” kata Pak Bambang sambil mengambil cek di laci kantornya.
”Ya…, terserah lah. Yang penting cukup saja,” kata Egi yang terkejut dengan omongan Pak Bambang.
”Ya sudah kalau begitu saya kasih 10 M saja ya!”
”Apa…?” kata Egi sambil menghitung bulatan-bulatan yang ditulis Pak Bambang. Memang, Egi belum pernah mendapatkan uang sebanyak itu.
Sesudah mendapatkan uang itu, Egi langsung membaginya kepada Prof. Ikhwan dan Sam.
”Sam, besok antakan aku ke kantor pemasaran Podorene, eh salah, Podomrono eh salah, ah apalah itu ya.”
”Podomoro maksutmu? Emangnya kamu mau beli rumah apa? Mahal lo kalau beli di sana!”
”O…, ya itu maksudku. Bodo ah. Kan aku kaya mendadak.”
”Hus, kamu itu, ya besok kalau aku lagi tidak ada  job.”
”Kamu tu kaya orang sibuk saja.”
”Biasalah.”
Mereka lalu menyegat taksi. Karena tidak tahu tempatnya, mereka hanya memutar-mutar keliling Jakarta. Entah sampai berapa angka di agro taksi, mereka tidak menghitungnya. Sesudah sampai, mereka malah bingung. Bukan karena tidak punya uang, tapi, karena bingung mau membeli rumah jenis apa. Akhirnya, mereka memutuskan untuk membeli rumah dengan tipe paling mewah, paling elegan, dan tentunya paling mahal.
”Sam, tolong bawa kursi ini ke ruang tamu,” suruh Egi dengan wajah singa siap untuk menerkam.
”Berat ini bos.”
”Boleh kami bantu? Kelihatanya kalian dalam masalah. Oh iya, sebelumya kenalin gue.  Adhitya, dan ini temen gue Cyintia,” kata dua orang yang berpakaian layaknya pangeran dan putri di negeri dongeng, tapi, kali ini berbeda. Mereka berbicara dengan gaya yang sedikit berbeda.
”Ya boleh. Saya Egi, dan yang ini Sam,” kata Egi sambil memperkenalkan dirinya dan Sam.
Sesudah itu, mereka ngobrol ke sana-ke sini. Lama kelaman, mereka semakin akrab dan mereka sering pergi liburan bersama. Dan ternyata, Egi menaruh hati pada Cyintia, tapi belum dikatakan. Egi selalu menututi apapun yang dikatakan Cyintia. Entah disuruh mengantarkanya, hingga membelikan barang-barang yang mahal.
Entar malam anterin aku ke klub ya...! Gue lagi stres nih,” suruh Cyintia.
”Ya, ntar gue anterin loe,” kata Egi dengan logat barunya.
Siang pun berlalu, berganti dengan malam. Sang surya bergati shift dengan sang rembulan untuk menerangi bumi. Disaat itu pula, meluncurlah Egi dan Cyintia ke sebuah klub malam terkenal di kawasan Bintaro.
”Gi, cobain deh, permen ini. Enak lo,” kata Cyintia sambil memberikan bungkusan obat yang seperti permen.
Egi mudah-mudah saja menerima itu, karena itu permintaan dari wanita yang diidamkanya. ”Kok pada muter-muter sendiri ya?” gerutu Egi.
”Itu karena loe kebanyakan makan permen. Nih, minum dulu,” kata Cyintia sambil memberikan gelas yang berisi air.
”Kok asam? Tapi, enak sih, minta lagi dong!”
Egi terus, dan terus meminum air yang ternyata Whisky, dan memakan permen yang ternyata ekstasi.
Mereka pulang tepat saat  ayam jago pertama berkokok. Egi pulang dengan bau dan gaya khas orang habis mabuk. Kejadian tersebut berulang-ulang. Hal tersebut merubah sifat dan perilaku Egi yang tadinya pendiam dan sederhana menjadi glamor dan bermewah-mewah.
Pernah Sam menasehatinya. Tapi, bukanya berubah, malah menjadi-jadi kelakuannya. Tapi, kali ini Sam membulatkan tekatnya , walaupun itu harus mengorbankan dirinya.
”Gi, sebaiknya kamu meninggalkan Cyintia dan Adhit. Aku tahu, kamu cinta sama Cyintia. Ini demi kebaikanmu,” kata Sam.
”Apa urusanya sama loe? Ini kan hidup gue.
”Tapi, sejak kamu bergaul dengan mereka hidupmu jadi berubah.”
Tit... Tit... Tit.... Hp Egi pun berdering. Ternyata, itu sms dari Cyintia. Sms tersebut berisi agar Egi mengusir Sam. Demi dirinya.
”Ya sudah kalau begitu. Mungkin, kita tak sependapat lagi. Lebih baik loe pergi saja dari sini.”
”Ya sudah kalau itu maumu. Aku ikuin saja.”
Dengan segudang kekecewaan, ditambah sekilo kesedihan, Sam pergi meninggalkan sahabat baiknya, walaupun masih ada rasa mangkel di hatinya. Dia mencoba untuk tabah. Entah, dia harus pergi ke mana. Akhirnya, Sam memutuskan untuk pergi, atau kata yang paling tepatnya pulang. Ya, pulang ke rumah aslinya, rumah lamanya.
Disaat yang bersamaan, Egi diajak Cyintia dan Adhit ke klub seperti biasa. Tapi, kali ini ada yang berbeda dengan siakp Cyintia dan Adhit yang lebih baik.
”Tambah lagi coy..., ” kata Egi.
 Ya, tapi, jika kamu mau tandatangani ini.”
”Mana yang harus ditandatangani? Gue nggak tahan lagi nih....”
”Di sini.”
Setelah minum cukup banyak, Egi dibawa Cyintia ke hotel. Sementara itu, Cyintia dan Adhit pulang ke rumah Egi. Dia bingung ketika sadar ia sudah berada di kamar yang ternyata kamar hotel. Lalu ia pulang.
”Pak...,pak..., anda dilarang masuk oleh non Cyintia” suruh satpam di rumah Egi.
Non...?” kata Egi. Egi yang masih bingung mencoba menerobos barikade satpam dam membuka pintu
Alangkah kagetnya Egi ketika dia membuka pintu terpampang kedua teman barunya tersebut sedang bermesraan di atas sofa.
”Cyinti? …, Adhit? … ngapain kalian di sini? Inikan rumahku!”
”Rumahmu? Itukan dulu. Sekarang semua aset yang kamu miliki telah menjadi miliku. Kan kamu yang memberikannya padaku semalam.”
”Oh ya? Berarti selama ini, kalian hanya mengincar hartaku? Dasar licik. Aku kira kamu orang yang baik dan membuatku suka padamu. Ternyata, kalian sama buruknya dengan koruptor. Aku salah telah mengusir Sam.”
Hellooo? Inikan Jakarta. Takkan ada orang yang mau berteman sama kamu yang kampungan. Dan loe pikir gue suka sama loe? Mimpi kali ya. Mending kamu sekarang pergi dari sini, atau, aku panggilkan satpam untuk mengusir loe.
”Tidak usah. Aku sudah muak dengan kalian.”
”Ya sudah sana pergi!”
Egi pergi dengan beribu penyesalan, entah itu dari kekecewaan atas kelakuan Cyintia dan Adhit, atau karena menyesal telah mengusir Sam. Menyesal, marah, kecewa, atau apalah itu yang membuat Egi bingung. Kemana, kemana, dan kemana. Itulah lagu yang tepat untuk Egi yang tidak tahu mau pergi ke mana. Tapi, ada satu tempat yang dia ingin tuju, rumah lamanya, rumah yang telah membesarkannya. Dia berharap, Sam ada di rumah tersebut.
”Apa kamu masih bertahan dengan pendirianmu? Aku menyesal Sam. Entah dengan apa agar kau mempercayaiku lagi. Aku khilaf Sam. Aku menyesal Sam.” suara Egi memecah keheningan di rumah tersebut. Khilaf dan menyesal. Itulah kata yang terus diucapkan Egi agar Sam percaya. Entah berapa kali Egi mengucapkan kata tersebut.
Tanpa tak terduga, Sam memeluk Egi yang masih dibanjiri dengan air mata. ”Tak perlu kamu begitu. Aku tadi hanya bercanda. Kau tetaplah temanku, sahabatku, saudaraku, atau apalah itu. Walaupun kau telah mengusirku, kau tetaplah sahabat baiku. Aku percaya, bahwa yang kau lakukan tempo hari hanya karena tipu muslihat Cyintia danAdhitya.”
”Terima kasih Sam, kau telah mempercayaiku.”
Tit... Tit... Tit.... hp Egi pun berdering. Ternyata sms dari Prof. Ikhwan. Ternyata, isinya tentang isi dari prasasti. Isinya adalah: bahwa teman sejati, tidak dapat diganti dengan harta, pangkat atau pun wanita.  Teman sejati takkan meninggalkan temannya, walapun dalam keadaan sulit.

Label: 0 komentar | | edit post
Unknown

Penyesalan pasti datangnya di akhir. Kalau di awal namanya adalah kesadaran. Ya, itu adalah kalimat yang pas untuk ku. Memang, penyesalan itu rasanya sakit sekali, hampir sama dengan saat kita ditusuk, bedanya, saat kita menyesal, sakitnya bagai ditusuk oleh duri-duri masa lalu yang terus menghantui kita.menyesal memang tidak ada gunanya, karena tidak akan menyelesaikan masalah kita.
Kubuka-buka buku sejarah yang sedari tadi aku bawa. Entah saat aku makan, mau tidur, bahkan saat aku ingin BAB. Bahkan sekarang, buku sejarah merupakan ”Pacar” bagiku, karena buku sejarah selalu menemaniku kemana-mana. Tapi, entah angin dari mana, yang terbayangkan di otaku bukanlah materi tentang Kerajaan Kutai, Kerajaan Medang Kamulan, dan mengapa agama Budha masuk ke Indonesia. Tapi, yang terbayang di otaku adalah dia, dia yang membuatku hancur berkeping-keping diantara ribuan penyesalan yang tiada bertepi. Wajahnya terpampang dengan jelas di antara kata-kata sejarah.
”Kenapa sih kamu selalu ganggu aku? Kamu kan dah punya Pras? Tapi, kenapa kamu masih menghantui aku?” Gerutuku dalam hati.
Memang, menghapus memori tentang dia adalah sebuah kemustahilan dalam hidupku. Entah kenapa, aku sulit sekali untuk menggantikan sosok ”Dia” dalam otakku. Tapi, biarlah, ini pilihanku. Oh bukan, ini bukan pilihanku, tapi sebuah takdir yang pahit buatku. Takdir yang sangat membuat aku meleleh. Tapi, biarlah. Aku nggak mau terlarut-larut dalam kesedihanku.
Dengan sedikit memaksa, ku mencoba menghapus memori tentang dia, dan mencoba fokus untuk menghafal materi Sejarah yang sebanyak Gunung Himalaya itu. Entah sudah berapa jam aku menghafal materi ini, tak terhitung lah. Akhirnya, ku putuskan untuk beristirahat untuk merefreshkan pikiran di Balkon rumah.
Memandangi langit di malam hari merupakan hobiku sejak kecil. Walaupun langit hari ini mendung, tapi, ini sangatlah sama dengan suasana hatiku saat ini. Suram, mendung, dan penuh dengan emosi yang ingin diluapkan.
”Aaaarrrrgggghhhhhhh,” teriaku.
Aku memang suka berteriak dengan keras agar semua beban yang ada di hatiku menjadi plong. Memang, rumahku berada di pojok desa, sehingga tidak ada yang terganggu dengan teriakanku.
”Dah hafal kamu?” Kata Bagas yang datang secara tiba-tiba yang mengagetkanku dari lamunanku.
”Aku bingung, semua orang dengan mudah dapat Move on dari orang yang meninggalkanya, tapi, kenapa itu tidak berlaku denganku?”
”Mungkin dia orang yang pas buat kamu, sehingga kamu sulit buat lupain dia. Kamunya juga yang salah nggak bilang sama dia kalau kamu suka sama dia dari awal. Tau gini jadinya, kamu nggak bakalan nyesel kan ditinggal dia?”
”Iya sih, tapi kan aku nggak bilang sama dia karena aku takut dia ninggalin aku. Tapi, ah lupakan lah. Mending gue lanjut ngafalin Sejarah.”
”Apa salahnya mencoba?”
Mendengar kata-kata dari Bagas, hatiku pun kembali bergejolak. Galau, dilema, dan menyesal. Itulah yang aku rasakan malam itu. Ku tinggalkan Bagas tanpa rasa berdosa dan akupun berajak menuju kamar ku dan tertidur pulas.
Tengah malam,  tanpa kusadari, aku terbangun dari tidurku karena aku merasakan ada yang basah diwajahku. Bukan air liru, tapi air mataku tanpa sadar menetes, mengalir dengan sendirinya, tak tau dengan sebab apa. Tapi, malam itu, aku merasakan hatiku bergejolak. Kutarik selimut yang melingkar di kakiku untuk kembali terlelap dalam indahnya mimpi seorang remaja. Tapi, itu adalah hal yang sulit bagiku. Entah kenapa, mata ini yang selalu mudah untuk terlelap menjadi sangat sulit untuk ditutup.
Doa demi doa tak henti-hentinya terucap dari mulutku. Ku serahkan segala badanku kepada yang kuasa. Dan akhirnya, aku bisa terlelap dengan nyeyak dan terbangun dengan suara adzan subuh yang membangunkanku dari mimpi yang indah.
Sekolah merupakan tempat yang tepat untuk aku melupakan semua beban pikiran yang terus mengahantuiku selama ini. Tapi, sekolah juga merupakan tempat dimana aku dapat galau dengan cepat. Yaitu saat dia lewat di depanku. Dulu, saat berpapasan dengan dia, adalah saat dimana paling aku tunggu-tunggu. Tapi, kali ini berbeda. Aku menjadi takut jika berpapasan dengan dia. Hal itu dapat mengakibatkanku menjadi galau dengan cepat.
Akhirnya, bel untuk pelajaran sejarah pun dimulai. Saati akan mengerjakannya, lewatlah seorang bidadari yang lewat di depan kelasku. Tanpa kusadari, dengan refleks aku menatap dengan dalam bola matanya. Dan dengan itu pula, membuatku menjadi pecah konsentrasi dan membuatku menjadi malas mengerjakan. Dan akhirnya, aku gagal dalam ulangan sejarah.
Bel pulang pun menandai kekalahanku dengan yang namanya sejarah. Aku yang malas pulang tetap berada disekolah sembari menatapi anak-anak yang pulang dari lantai dua. Memang, saat itu kelasku berada di lantai dua. Di kejahuan, terlihat motor yang dulu pernah aku sukai, tapi, kali ini aku agak malas melihatnya.
Melihat teman-temanku yang pulang adalah kesukaanku. Tapi, aku sebal ketika melihat teman-temanku pulang sembari memboncengkan teman dekatnya.
”Kok belum pulang kak?” Tanya seorang yang asing bagiku.
”Iya nih dek, males aku pulangnya. Di rumah Cuma galau dek, jadi malas pulang,” belaku.
”Oh, galau kenapa kak? Pasti habis diputusin cewek nya ya?”
”Ah kamu tu apa-apaan sih dek, punya pacar aja belum og dah diputusin. Aneh. Oh iya, kenalin nama kakak...”
”Tyo kan kak?” Jawabnya dengan cepat.
”Kok tau kamu dek?”
”Tau dong, kan kakak terkenal karena pake yang ijo-ijo itu kan?”
”Ah bisa aja kamu dek, tapi, maaf ya dek, aku nggak suka sama orang yang kenal sama aku gara-gara motorku.”
”Oh ya maaf kak, aku nggak tau. Oh iya, kenalin, sampai lupa aku, nama aku ..”
Belum selesai dia memperkenalkan dirinya, dia buru-buru pergi karena dia telah dipanggil oleh temanya dengan nama Feni. Ya Feni, itu adalah namanya.
Perlahan tapi pasti, aku mulai melupakan Anggra, tapi, aku tetap menaruh hati untuknya. Kali-kali saja dia berpaling dan mau denganku. Aku sudah pernah bilang pada nya kalau aku masih ingin menunggunya. Menunggu dengan sabar dan sabar. Tapi, tak apalah, aku nggak mau menyesal untuk ke dua kalinya.
Aku mulai lupa kalau aku ini tengah galau dengan menyibukan diri dengan meihat adek kelas bermain Basket di Lapangan basket di sekolahku, sembari bergosip dengan temanku, Yuli. Semua hal yang aku dan dia tau kami bagikan satu sama lain. Dari perbincangan itu, aku tau kalau teman lebih penting dari pacar saat ini bagiku. Memang, teman ada setiap saat. Tidak seperti pacar yang meng hilang saat kita butuh, dan datang ketika dia sedih. Tapi, itulah siklus kehidupan
Label: 0 komentar | | edit post
Unknown

Semua memang terlihat lucu bagiku. Semua hal yang kusuka, terlebih dia, membuatku menjadi lebih bersemangat untuk hidup. Walaupun hidup itu susah, tapi, jika kita memaknai hidup ini, pasti akan menjadi lebih bermakna. Ya, itu adalah kata-kata yang sering kudengar dari nya. Orang yang menjadi semangat untuk hidup lebih baik. Orang yang sering aku ganggu saat berangkat maupun pulang sekolah, walaupun itu hanya lewat sms.
Ketarik tuas gas hingga habis dan ku terabas halang rintang di jalan raya. Satu, lima, atau bahkan sembilan truk yang aku lewati, walaupun saat ini jalanan masih ramai dalam ukuran jalan raya di Magelang. Cukup nekad bagiku untuk ukuran seorang pengendara motor amatiran di jalan raya. Naik motor sambil mainan hp bukan lha hal yang tabu bagiku. Walaupun, kadang kala , aku diprotes oleh pengendara yang lain. Tapi, itulah seorang remaja yang lagi galau, berani memertaruhkan nyawa.
15 menit aku dijalanan, tak terasa, aku sudah berada di depan gang rumahku. Disana, sudah menghadang sesosok manusia yang bermantel, hitam, dan gelap. Ya, dia adalah Bagas, orang yang nantinya aku sebut sebagai seorang sahabat yang datang saat aku susah, dan menghilang saat aku senang. Itulah aku, kalau ada maunya pasti baik hati.
”Hei, dari mana kau ini?Katanya mau curhat?Kok jam segini baru nonggol?” Gerutu Bagas dengan suara yang diberat-beratkan, tapi, tetap cool. Ya iyalah, toh dia adalah seorang idaman wanita benar.
”Ya maaf gas, aku kan tadi lupa, toh, tadi aku juga gabung sama anak rohis, jadi lupa waktu” , belaku.
Bagas tetap saja menghakimiku dengan belaan darinya. Tapi, entah bagaimana yang terlintas di benakku hanya omongan Anggra tadi pagi. Omongan Bagas terasa dihalangi untuk masuk ke pikiranku dengan lamunanku tentang Anggra.
”Jadi curhat kagak?” Bentak Bagas.
Aku tersadar dari lamunanku dengan bentakan dari Bagas. Merasa iba dengan Bagas, aku pun membuang jauh-jauh lamunanku dan mengajak Bagas ke sebuah cafe di kawasan Kota. Di cafe tersebut, aku curhat dengan Bagas tentang tingkah laku Anggra yang sudah berubah ketika berpapasan denganku. Tidak ada tegur sapa diantara aku dan Anggra. Walaupun aku jarang ngobrol dengan Anggra, tapi, aku merasa kalau ada yang disembunyikan dariku.
”Mungkin, Anggra sudah eneg dengan tingkahmu itu Yo. Kamunya ngasih sinyal ke dia setengah- setengah. Mungkin ini yang membuat Anggra menjadi bosan dengan kamu. Makanya dia jadi bad mood ketika ketemu kamu. Mungkin juga eneg karena kamu beraninya ngobrol lewat sms, nggak pernah ngobrol sama dia 4 mata langsung. Jadi, hal ini membuat Anggra menjadi bosan, ” itulah saran dari Bagas.
Karena penasaran dengan tingkah laku Anggra, akupun berniat menyelidikinya. Aku mulai dengan bertanya dengan Apri, sahabat paling dekat dengan Anggra.
”okey, deal ya jam 4 sore di cafe baru itu”, katanya lewat sms.
Aku pun bergegas berangkat menuju cafe tersebut. Disana, sudah menunggu seorang wanita yang memakai kaos warna merah. Ternyata Apri sudah menungguku sejak jam 4 sore dan ini sudah jam setengah lima. Aku pun meminta maaf kepada Apri.
”Pri, aku mau nanya satu hal sama kamu. Selama ini, apakah ada yang disembunyikan dariku?” Tanyaku To The Point.
Dengan gelagapan, Apri mejawab pertanyaanku, ”Kok kamu berani bertanya seperti itu?Dapat ide dari mana kamu?”
” Aku mau cerita sama kamu, tapi kamu jangan ember ya. Akhir-akhir ini, Anggra kok berubah ya tingkah lakunya saat bertemu aku? Kok dia juga sering minta maaf sama aku?”
”ada kalanya aku nggak cerita sama kamu. Sudah ya Tyo, aku sudah ditunggu neneku.”
Kata-kata Apri sungguh membuat aku semakin penasaran dan semakin yakin bahwa ada yang sembunyikan dariku. Dan juga,,, sejak kapan nenek Apri suka Shopping? Itulah yang ada di benakku selama perjalanan pulang. Akhirnya, aku memberanikan diri bertanya langsung kepada Anggra, walaupun itu hanya lewat sms.
”maaf ya Tyo, aku sering minta maaf ke kamu akhir-akhir ini. Aku Cuma ngarasa aja aku suka menyakiti kamu,”itulah balasan dari Anggra.
Balasan dari Anggra sungguh bermakna  banyak. Banyak yang dapat ditarik dari balasan Anggra. Tapi, entahlah, aku percaya kalau Anggra tidak mungin menyembunyikan sesuatau dari aku. Aku percaya itu J
Paginya, disekolah, aku bak seorang raja yang dikawal oleh para prajuritnya yang sedang dijarah oleh seorang bandit. Ya, diparkiran sekolah aku ditunggu oleh Sari, teman lamaku. Teman yang mencomblangkan temannku dengan temanku yang lain.
”Budi sama Tiwi, Anggra sama Pras, lha kamu sama siapa?” Tanya nya tanpa dosa.
Aku yang mendengar pertanyaan Sari tersebut langsung down, galau tingkat dunia akhirat, rasanya seperti cokelat yang dipanggang diatas bara api, dan dipenyet-penyet oleh raksasa dari dimensi 4. Langsung aku ingin mati. Aku yang belum menjawab pertanyaan dari sari kemudian meninggalkanya tanpa menjawab pertanyaannya. Langsung saja, semua rumus-rumus yang aku hapalkan semalaman suntuk hancur berkeping-keping menjadi pecahan yang tiada gunanya lagi. Tapi, aku mencoba teguh. Mencoba untuk tidak percaya itu.
Alhasil, ulangan Fisikaku anjlok, jeblok, dan gagal. Malam harinya, aku mencoba mencari kejelasan. Ku coba telpon Anggra, tapi, seperti biasa, dia tidak mau menjawab telponku. Tapi, kerja keras ku akhirnya berhasil, Anggra yang luluh hatinya karena usahaku mengangkat telpon dariku. Sempat tidak ada suara diantara kami.
Akhirnya, ku beranikan diri untuk membuka perbincangan kami.
”Malem Nggra. Sory ganggu. Lagi nggak sibuk to?” Tanyaku.
”Malem juga Tyo, enggak ganggu og, beneran. Kok tumben malem-male telpon?Semangat banget telponya? Mesti penting ya?”
”oh, ya syukurlah kalau nggak ganggu. Nggra, aku Cuma mau tanya, apakah ada yang kamu tutup-tutupi dari aku?”
Mendengar pertanyaan dariku, dengan segera, Anggra cepat-cepat menutup telepon dariku. Akhirnya, walaupun tanpa ada jawaban darinya, tapi, aku tau satu hal dan yakin atas pendapatku tentang status hubungan dia.
Tau akan itu, ku coba telpon dia. Tapi, hasilnya nihil. Entah nggak diangkat karena dia sedang sibuk, ataukah,,, ataukah, dia benar-benar menyembunyikan sesuatu dariku. Akhirnya, dengan rasa kecewa, sedih, dan galau tingkat dunia akhirat, kucoba sms dia. Semua emosi yang aku rasakan aku curahkan dalam kata-kata yang aku coba katakan kepada Anggra. Tapi, kucoba untuk tetap menjaga hati Anggra agar tidak marah kepadaku.
”Nggra, sory kalau aku bilang ini ke kamu. Tapi, aku Cuma ingin jujur ke kamu kalau aku tu cinta ke kamu, aku sayang kamu, dan aku care kamu. Maaf, maaf, dan maaf aku bilangnya telat ke kamu. Tapi itu percuma Nggra, aku dah telat bilang ini ke kamu. Aku dah telat. Aku dah telat ngomong ini ke kamu, dan aku telat tau kalau kamu dah punya pacar. Sakit, sakit, dan sakit Nggra aku tau ini dari orang yang pernah aku sukai. Tapi, yo wes lah. Paling ini takdirku. Takdir yang diciptakan Tuhan untuk memperingatkanku agar tidak mempermainkan hati wanita lagi. Tapi, mengapa kamu nggak jujur sama aku? Thanks Anggra atas semuanya, atas semua senyummu, sapamu, dan juga atas semua luka yang kau beri padaku. Thanks ris. Sekali lagi maaf karena aku ngomong ini ke kamu.”
Air mata tanpa sadar menyucur dari mataku. Tanpa sadar, aku terus memikirkan semuanya. Semua telah terjadi dan tidak bisa merubahnya. Kumatikan hp ku dan kucoba untuk mendekatkan diri pada yang kuasa. Entah Anggra membalas smsku atau tidak, tapi aku tidak memperdulikannya. Ingin rasanya seperti bayi yang baru lahir. Tanpa masalah, tanpa dosa, dan tanpa emosi. Ingin rasanya kembali pada masa itu.

#cerpen ini didedikasikan penulis kepada seorang yang penulis cintai disana...ditulis dari hati yang paling dalam
Label: 0 komentar | | edit post